Tuesday, 21 April 2015

Gampang Mana?


Lebih gampang mana berdakwah di ranah publik (yang masyarakatnya cenderung lebih multicultural dan heterogen) dibandingkan di masyarakat yang sudah mengerti tentang Islam? Pasti jawabannya akan lebih mudah yang kedua. Karena mereka sendiri telah menyadari apa benefit dari mengikuti jalan dakwah tersebut. Lain halnya jika yang didakwahi adalah orang awam dengan berbagai macam background, masa lalu, apalagi berbagai macam keyakinan.

Tapi, akan makin lebih menantang apabila seorang pendakwah bisa memasuki semua kalangan apalagi dakwahnya bukan hanya untuk pemeluk agama tertentu saja. Pastinya pendakwah tersebut sangat ahli dan bagus cara bicaranya. Seperti kata pepatah, laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut tangguh.

Today's lesson : Think first, before you speak or chat in public room.

Jakarta, 21 April 2015
Selamat Hari Kartini!
Continue Reading...

Wednesday, 8 April 2015

CEO, CFO, CIO, CTO, CSO, CCO, CKO dan CMO

Berawal dari ketidaktahuan saya tentang jabatan CIO yang mendadak dilontarkan oleh salah satu Manager negeri sebelah, akhirnya saya memutuskan untuk meng-copas menuliskannya dalam blog saya agar terpatri di hati dan dicamkan baik oleh mata (lebay).

Apa itu CEO, CFO, CIO, CTO, CSO, CCO, CKO dan CMO?

CEO (Chief Executive Officer)

CEO (Chief Executive Officer) atau disebut juga sebagai Direktur Pelaksana/MD (Managing Director) adalah pejabat perusahaan level atas (eksekutif) atau administrator yang diberi tugas manajemen secara total terhadap suatu organisasi. CEO lebih sering (tapi tidak selalu) juga merupakan pimpinan perusahaan.Seseorang yang ditunjuk sebagai CEO sebuah korporasi, perusahaan, organisasi, atau lembaga biasanya melapor pada Dewan Direktur.

Ada 4 pekerjaan CEO yang membedakannya dengan posisi lain di organisasi:

1. Pertama, merumuskan pihak pihak luar yang benar benar berarti bagi organisasi alias ‘the meaningful outside’. Harus ditetapkan mana yang betul-betul berarti, meskipun ada beberapa stakeholder, yang paling dianggap penting adalah konsumen. Jadi kalo ada konflik satu sama lain, penyelesaiannya dengan mengutamakan pihak yang paling penting, yaitu konsumen.

2. Kedua, memutuskan mana bidang yang akan digeluti dan mana yang tidak. Tidak semudah yang dibayangkan, banyak CEO yang tidak mampu fokus dan serakah menginginkan terlalu banyak bidang. Contoh: P&G rela melepaskan produk selai kacang ‘Jiff’, karena dianggap tidak sanggup mendongkrak citra P&G sebagai pemain global, karena hanya orang US yang suka selai kacang. P&G juga secara tegas memutuskan untuk fokus pada produk produk laundry, pembalut bayi, perawatan rambut dan wanita saja. Karena secara strategic cocok dengan sasaran dan kompetensi mereka.

3. Ketiga, kemampuan menyeimbangkan kepentingan saat ini dan masa depan. Dengan cara menetapkan target pertumbuhan yang realistis namun mantab. Contoh: Lafley, CEO P&G mengkoreksi target pertumbuhan financial ke angka angka yang lebih realistis. Langkah tsb awalnya tidak populer dimata Wall Street, namun Lafley yakin nantinya akan menjadi lebih sehat secara jangka panjang. Di bidang pengembangan organisasi Lafley bahkan terlibat secara langsung thd rencana karier dari 150 calon pemimpin potensialnya, karena dia percaya bahwa merekalah masa depan dari kelangsungan bisnis P&G.

4. Keempat, mempertajam nilai nilai dan standar standar perusahaan. Nilai nilai perusahaan merupakan cerminan identitas kolektif perusahaan. Jika ingin sukses, maka nilai nilai perusahaannya haruslah terhubungkan dengan ‘meaningful outside’ serta relevan untuk saat ini dan masa mendatang. Sementara standar perusahaan merupakan harapan yang ditetapkan organisasi. Dalam sejarahnya, P&G merumuskan ‘trust’ (kepercayaan) sebagai nilai perusahaan.

Peran CEO adalah unik, CEO adalah pimpinan bisnis yang harus mampu menjadi ‘jembatan’ antara dunia luar dan dunia dalam organisasi.
Continue Reading...

Tuesday, 17 March 2015

4+1 Alasan Kenapa Saya Belum Jadi Dosen

4+1 Alasan Kenapa Tidak Belum Jadi Dosen
Source image : xxpanda7xx deviantart
Banyak teman yang mengira setelah saya lulus S2, saya lantas menjadi dosen. Ada satu senior yang malah dengan PD-nya mengirimkan email kepada saya yang intinya meminta dokumen persyaratan kelulusan dari kampus S1 saya. Dia mengira saya sudah menjadi dosen di kampus tersebut. Ada juga beberapa teman yang berkomentar di social media, mengira saya telah bekerja sebagai dosen (yang entah dimana, haha).

Apakah memang mindset orang Indonesia bahwa setelah lulus S2 akan selalu menjadi pengajar/dosen? Tidak salah memang, namun nowaday tidak semua mahasiswa lulusan S2 memutuskan untuk mengajar. Semua kembali pada pilihan masing-masing individu. Lalu, apa alasan saya belum memutuskan untuk mengajar/menjadi dosen?
Continue Reading...

Tuesday, 3 March 2015

Tentang Menulis


Prolog
Alhamdulillah hingga detik ini saya masih bisa menulis dan berpikir untuk menjadi penulis. 

Menulis dari Hati atau karena Tendensi?
Membaca ulang tulisan saya beberapa tahun lalu, atau dari buku yang telah terbit, terasa sangat berbeda. Kadang saya malah berpikir, apa benar ini saya yang menulis? Bahasanya terlalu bagus, haha. Bisa-bisanya saya menuliskan cerita dengan diksi dan pemilihan kata yang benar-benar tepat sehingga sampai bisa menyentuh hati (ciee).

Untuk beberapa buku yang telah diterbitkan saat saya masih berada di Taipei, khususnya untuk yang true story, pemilihan kata yang saya gunakan "cenderung" lebih bagus. Tidak seperti saat menulis naskah ketika saya sudah berada di Jakarta seperti sekarang ini. Cenderung kaku dan tidak sampai ke hati pembaca (menurut saya). Entah kenapa. Mungkin karena cerita yang saya buat saat berada di tanah rantau yang jauh dari orang tua lebih bisa membuat feel menulis jadi deeper.
Continue Reading...

Friday, 27 February 2015

In the State of Boredom

Source : deviantart

Masa-masa jenuh. Masa-masa ingin mencoba yang lain. Tidak seperti saat waktu kuliah, both master and bachelor degree, dimana saya masih bisa nyambi kerjaan lain, baik itu ngedesain atau sekedar menulis cerpen. Back to the real world, dunia kerja, from-eight-to-five yang sebenarnya sangat menyita tenaga, waktu dan pikiran. Sebenarnya ada jeda waktu kosong seperti saat ini yang saya gunakan untuk blogging  dan sejenak refreshing. But still, I want to do something else instead of working and working on the same thing and in the same place.

Saya memang tipikal orang yang mudah bosan. Saya suka memulai sesuatu yang baru tapi seringnya tidak melanjutkan kalau sudah tidak exciting lagi sama sesuatu itu. Jelek memang. Apalagi kalau saya ingin menjadi seorang enterpreneur yang dituntut untuk stay focus dan istiqomah pada pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun. Dan tidak boleh berhenti sebelum usahanya maju dan sukses.
Continue Reading...

Followers

Total Pageviews

Copyright 2015 @dininuzulia | Designed By Templateism and Seo Blogger Templates