Monday, 18 January 2016

Happy 720 hours Wedding Anniversary!


Tidak terasa saya sudah menjalani 1 bulan masa pernikahan. Ada yang berbeda? Tentu saja ada tapi perbedaannya mungkin tidak sesignifikan pasangan-pasangan newlywed yang langsung bisa 'bersatu'. Karena saat ini saya masih menjadi weekend wife, jadi belum terlalu merasa menjadi full time wife yang setiap hari bisa bertemu dengan suami. Jarak ratusan kilometer sukses membuat saya dan suami (ciee) masih belum merasa sudah menikah karena tidak setiap hari kami bisa bertemu. Mungkin perasaan seperti ini sama dengan yang dirasakan para weekend couple lainnya. Hari Sabtu dan Minggu menjadi hari yang ditunggu karena saat itulah baru saya bisa merasakan indahnya pacaran setelah pernikahan (tsaah!).

Genap sebulan sudah kami mengarungi cerita pasangan newlywed yang terpisah antara Jakarta dan Bandung. Tak banyak yang berubah dari kehidupan sehari-hari saya. Tempat tinggal juga masih sama, di kos yang lama. Keseharian juga sama, masih hidup sendirian :p. Hanya saja setiap weekend ada yang selalu menemani. Kami bergantian ke tempat masing-masing. Kadang saya yang ke Bandung atau suami yang pergi ke Jakarta. Kesepakatan ini telah kami buat sejak sebelum menikah.

Lalu siapa yang akan mengalah? Tidak ada yang namanya kalah dalam rumah tangga. Yang ada adalah menurunkan ego masing-masing demi kepentingan bersama. Saat ini saya sedang dalam proses pengajuan mutasi kerja ke domisili suami karena tidak mungkin suami saya yang menyusul ke ibukota karena kantornya hanya ada di Bandung saja. Akhirnya saya yang memutuskan untuk berpindah ke kota kembang.

Awal-awal pernikahan, banyak yang harus di-adjust demi keharmonisan ritme yang akan dimainkan bersama. Perbedaan suku merupakan salah satu faktor yang membuat kami berdua harus lebih keras belajar dan memahami keluarga masing-masing. Perbedaan bahasa dan budaya juga membuat kami sering mengalami roaming ketika berada di keluarga masing-masing. Menjadi penerjemah dadakan, itulah yang sering kami lakukan agar komunikasi tetap berjalan lancar. Saya sendiri masih sering tidak ngeh dengan apa yang keluarga suami bicarakan ketika berbicara dalam bahasa asal. But I think it's not a big problem, we can handle it together for sure!

Married is about sacrifice. Pengorbanan waktu, biaya, dan lelah akan terbayar lunas saat melihat senyum ikhlasnya. 
Married is about us. Tidak akan ada lagi kata-kata aku, semua akan melebur menjadi satu.

P.S : 
"Dear husband,
Terima kasih telah menjadi suami yang baik, yang telah menerima banyak kekuranganku, yang telah mengajariku apa itu arti sebuah kesabaran.
Dan terima kasih karena telah rela menembus jarak lebih dari 250 km demi mengantarkanku pulang."

Jakarta, 18 Januari 2016
23rd floor
Continue Reading...

Monday, 28 December 2015

It's About Time

When is the best time to decide whether to stay or leave?

Mungkin sebenarnya tidak ada orang yang tahu kapan saat yang tepat untuk 'melangkah'. Lebih tepatnya melangkah keluar dari zona nyaman maupun zona tak nyaman. Kali ini yang saya bicarakan adalah walk out dari zona yang cenderung tak nyaman. Tidak memberikan benefit atau keuntungan baik untuk pribadi maupun orang di sekitar kita. Saat zona itu hanya akan memberikan beban fisik dan mental yang sudah tak dapat kita tampung lagi. Saat zona tersebut hanya memberikan kebebasan finansial tapi tak memberikan ketenangan hati. Lalu apa yang diperoleh jika hanya mendapat sesuatu bernama harta? 

Apa yang membuat zona menjadi tak lagi memberikan benefit? Aktivitas? Environment? Atau bahkan individu masing-masing? Hal ini juga perlu menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang tak boleh disesali seumur hidup. 

Kapan sebenarnya saat yang tepat untuk keluar dari sebuah zona yang tak nyaman itu? Ada yang berani mengambil resiko, tapi tak jarang pula yang cenderung berdiam di tempat itu hanya karena kekhawatiran akan berkurangnya harta dunia jika dia tidak melakukan pekerjaan yang dilakukan sekarang. Ketakutan akan bigger risk yang timbul akibat meninggalkan rutinitas yang telah memberikan kebebasan finansial. Padahal sebenarnya ada banyak opportunity lain yang siap ditangkap jika berani menutup pintu lama yang mengekang. Membuka pintu baru dengan mendobrak mindset lama akan berkurangnya rezeki. Padahal kita tahu sendiri kalau rezeki itu datangnya dari Allah, bukan atasan. 

Kapan? Pertanyaan yang terus timbul, hingga akhirnya kita berani berikrar:

Yes, it's time to walk out

Saat yang tepat untuk meninggalkan pekerjaan lama. Menciptakan peluang baru, memberikan banyak manfaat bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar. Tapi sekali lagi, kapan? Kapan saat yang tepat itu? Saat yang tepat itu tak akan pernah muncul jika kita takut untuk melangkah. Melangkah maju dan berani mencari celah dari rutinitas yang tak kunjung berakhir.

Jakarta, 28 Desember 2015
Yes, it's time to re-create my big plan

Continue Reading...

Wednesday, 16 September 2015

Book Review: Islammu adalah Maharku


Islammu adalah Maharku, novel kedua mas Ario Muhammad yang telah saya rampungkan bulan ini. Sebelumnya saya juga telah membaca novelnya yang berjudul Notes of 1000 days in Taiwan yang menceritakan pengalaman saat menjalani studi di Taipei, Taiwan.

Novel kedua ini merupakan novel dengan genre fiksi setelah sebelumnya mas Ario telah sukses menerbitkan novel non-fiksinya. Novel setebal 232 halaman ini berhasil membuat saya tenggelam dalam ceritanya. Menikmati tiap fase pergolakan batin yang terjadi pada Syakila maupun Profesor Chen, dua tokoh utama yang diusung penulis dalam novel ini. Bagaimana mereka berdua yang pada awalnya sangat bertolak belakang saat menghadapi sebuah perasaan yang bernama ‘cinta’, bisa benar-benar berakhir dalam satu komitmen dengan salah satu tokoh utama memutuskan untuk mengikuti keyakinan seseorang yang dicintainya.
Continue Reading...

Thursday, 9 July 2015

BukBer dan Halal

Bismillah...

I Only Eat Halal Food

Sepertinya label ini hanya menempel pada saya ketika berada di Taipei beberapa waktu yang lalu. Sekarang, di kota yang menyediakan beragam jenis makanan dari berbagai negara, saya sudah tidak berani jamin bahwa semua makanan which I've ever eat is HALALSedih? Banget. Kenapa justru di tanah kelahiran saya sendiri saya bahkan tidak dapat memastikan apakah makanan yang saya telan halal atau haram. Lalu, apakah tulisan dan logo yang pernah saya buat (saat menjadi committee International Muslim Culture Exhibition di Taipei) yang berbunyi "I ONLY EAT HALAL FOOD" sudah tidak berlaku lagi sekarang di Jakarta?

Miris. Meski terdapat beragam restaurant mulai dari masakan tradisional Indonesia, Jepang, Korea, China dan Western, namun jarang yang benar-benar memajang sertifikasi HALAL dari MUI. Parahnya, beberapa tempat makan menyajikan alkohol dan daging/minyak babi tanpa ada warning even for muslimah berjilbab. Mungkin bagi beberapa chef makanan serasa tak lengkap jika tak dibubuhi sedikit red wine or sake or arak beras yang kesemuanya akan menjadi haram, walaupun hanya setetes kadar haram dimasukkan dalam segambreng makanan halal.
Continue Reading...

Thursday, 2 July 2015

Kompetisi KIBAR UK

Assalamualaikum teman-teman, mohon dukungan dengan LIKE dan SHARE untuk 2 poster saya yang saya ikutkan dalam kompetisi yang diadakan KIBAR UK (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya).

Mohon LIKE & SHARE dengan klik link di bawah ini dengan sosmed teman-teman ^^

Instagram:
1. https://instagram.com/p/4nToSbg6PI/

2. https://instagram.com/p/4nTh1Hg6PB/


Website (like Facebook, Twitter, GooglePlus dan LinkedIn):
1. http://www.kibar-uk.org/2015/07/02/a078/
2. http://www.kibar-uk.org/2015/07/02/a077/

Terima kasih, dukungan teman-teman akan sangat berarti :)

Continue Reading...

Followers

Total Pageviews

Copyright 2015 @dininuzulia | Designed By Templateism and Seo Blogger Templates